Jawatimur sendiri tahun ini
dapat jatah seri kejurnas dragbike sebanyak dua kali yang seri
selanjutnya bakal digelar bulan April usai pemilu. Lantas apa bedanya
kejuaraan nasional dan kejuaraan terbuka, mana lebih menarik bagi para
pembalap untuk meniti karier. “ Kalau dulu masih promotor kejurnas dari
pusat jarang ada lomba yang sama didaerah lain dan ini pembalap harus
ikut kejuaraan itu kenapa sekarang seperti ini “ kata Ricko Bocel
dragster nasional asal Surabaya.
Sisi perbedaan yang bisa dilihat kasap mata adalah Kejurnas selalu ada
utusan Juri dari PP IMI, meskipun utusan ini boleh dari daerah tersebut
asal punya Lisensi Juri Nasional.
Sebaliknya
persiapan dari tim balap sendiri sudah tidak ada bedanya mengikuti
Kejurnas,Kejurda atau Kejuaraan terbuka. Tengok paddock di tim balap
Jawatimuran, meskipun tidak ada aturan yang baku syarat mengikuti
kejurnas tetapi semua motor yang ikut sama persis dengan yang dipakai di
kejuaraan terbuka biasa. “ kalau saya sejak berangkat sudah saya
persiapkan motor untuk kelas kejurnas, yakni ganti blok baru, stang piston baru dan setting ulang pengapian di kelas 2 tak tune up 130 cc yang biasanya di kejurnaskan “ kata Ko Sinchan tuner tim B-Joss.
Persiapan bagi pembalap sendiri juga
tidak ada bedanya, jika di kejuaraan terbuka berskala nasional para
pembalap diwajibkan pakai racing suit
(ware pack) namun di kejurda seri 1 kemarin para pembalap yang pakai
bisa dihitung jari. Dan ini cukup beralasan karena pembalap bebas tanpa
peringatan jika hanya pakai Jersey untuk balap dengan alas an ga ribet
dan ringan dipakai.
Dragster Tony Cupang sendiri di seri
awal kejurnas malah dilepas tim induk Kolor Ijo dan bebas di’pakai’ tim
lain asal kelasnya tidak berbenturan. “ Ini karena Bos Kolor Ijo sedang
persiapkan pilihan legislative tahun ini, untuk sementara absen semuanya termasuk motor-motor andalan “ kata Tony.
penulis & foto : diki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar